Harapan masyarakat agar anak-anaknya dapat segera bekerja setelah lulus sekolah saat ini menjadikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menjadi populer atau menjadi primadona. Hal ini disebabkan SMK dianggap lebih menjanjikan. Karena ketika di SMK para siswa dibekali berbagai ketrampilan kerja sesuai jurusan atau bidang keahlian yang dipilih.

Sederhananya, misalnya setelah lulus SMP kita masuk SMK mengambil jurusan otomotif. Kemudian selama tiga tahun kita dibekali berbagai ketrampilan susuai jurusan yang kita ambil yaitu otomotif. Begitu lulus kita bisa bekerja di perusahaan otomotif. Bisa juga berwirausaha dengan mendirikan bengkel sendiri. Paling tidak setelah lulus kita memiliki keahlian yang bisa dipraktikkan. Terlebih ketika SMK tidak hanya teori, tetapi juga dibekali praktik kerja atau biasa disebut Praktik Kerja Lapangan (PKL). Itulah yang mendorong masyarakat menginginkan anak-anaknya sekolah di SMK.

Kepala Seksi SMK Dinas Pendidikan dan Olahraga (Kasie. SMK Disdikpora DIY), Dra. Triana Purnamawati, ketika ditemui Up Magazine menuturkan saat ini pemerintah membuat rumusan baru untuk dunia pendidikan. Rumusan untuk mendirikan atau menyediakan sekolah lanjutan di Indonesia dengan ketentuan 67 % SMK dan 22 % SMA.

“Pemerintah membuka SMK di berbagai daerah di Indonesia dengan jurusan atau bidang keahlian yang disesuaikan kebutuhan masyarakat sekitar. Misalnya daerah pesisir pantai dibuka SMK kelautan dan perikanan. Kemudian daerah agraris maka dibuka SMK pertanian, daerah-daerah wisata maka dibuka jurusan pariwisata. Harapannya nantinya akan terpenuhi ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM) siap kerja di berbagai sektor industri ,”jelasnya.

Selain itu menurut Triana pemerintah juga bekerjasama dengan berbagai perusahaan yang sesuai dengan jurusan yang dibuka SMK tersebut. Misalnya,SMK jurusan tatabusana bekerjasama dengan perusahaan garment sehingga lulusannya bisa bekerja atau menimba pengalaman di tempat itu. Kemudian SMK jurusan pariwisata maka pemerintah akan bekerjasama dengan sektor industri pariwisata sehingga mereka yang lulus dari SMK tersebut bisa bekerja di hotel atau kapal-kapal pesiar. “Bisa juga sebagai guide atau pemandu wisata. Sehingga nantinya akan terpenuhi SDM-SDM muda yang terampil sesuai kompetensi atau bidang keahliannya,”tambahnya.

Dalam penjelasannya sebagai upaya untuk mendukung maupun meningkatkan kualitas siswa SMK, pemerintah juga mengadakan semacam uji kompetensi untuk siswa-siswa SMK di Indonesia. Uji kompetensi tersebut didukung berbagai perusahaan papan atas baik perusahaan nasional maupun internasional. “Uji kompetensi tersebut misalnya seperti ini siswa-siswa SMK kabupaten dan provinsi diadakan Lomba Kemampuan Siswa (LKS). Apabila lolos LKS kabupaten atau provinsi dapat mengikuti lomba tingkat nasional yang bernama Olimpiade Siswa Terapan (OST). Nah, yang menang OST akan mengikuti World Skill di luar negeri.”tuturnya.

Triana berharap melalui uji kompetensi tersebut siswa-siswa SMK setelah lulus dapat bekerja di perusahaan internasional. Meskipun tidak lolos di tingkat internasional pun mereka tetap dilirik perusahaan nasional. Sehingga siswa-siswa SMK tetap bisa bersaing dengan lulusan sekolah lain di dunia kerja.

Di tempat terpisah, Kepala SMK Muhammadiyah Playen, Gunung Kidul, Drs. Sutopo Giri Santoso mengatakan bahwa program pemerintah mencanangkan gerakan ‘SMK Bisa, Indonesia Bisa’ sebetulnya hendak menunjukkan kepada masyarakat bahwa lulusan SMK memiliki banyak kompetensi yang bisa diunggulkan.

“Saat ini banyak anak-anak SMK yang mampu membuat mobil, merancang mesin kendaraan yang cukup tangguh. Berarti di sini sebenarnya anak-anak SMK setelah lulus kemudian bekerja mereka layak diperhitungkan. Buktinya banyak perusahaan-perusahaan nasional maupun internasional yang mencari siswa-siswa SMK untuk kontrak kerja atau magang di perusahaan tersebut,”paparnya.

Padahal menurut Sutopo untuk bisa masuk ke perusahan-perusahaan tersebut harus melalui tes seleksi. Salah satunya ada perusahaan mencari dengan datang sendiri ke SMK yang dituju untuk menawarkan paket magang untuk siswa SMK. “Ini bisa dikatakan sebagai peluang yang menarik bagi kita dan sekaligus memberi nilai tambah bagi siswa. Siswa akan mendapatkan pengalaman langsung bagaimana bergaul dengan masayarakat luas. Lebih-lebih dengan orang-orang yang lebih pandai dan berpengalaman.

Sebagai upaya untuk meningkatkan kompetensi siswa SMK banyak hal yang bisa dilakukan. Misalnya seperti yang dilakukan SMK Muhammadiyah Playen yang setiap tahun bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan nasional.  “Sekolah kami mengirimkan siswa untuk magang kerja di perusahaan tersebut. Misalnya siswa jurusan audio video yang bisa magang atau bekerja di stasiun televisi. Atau jurusan Teknologi Informasi (TI) yang banyak diminati berbagai perusahaan atau instansi.”ujarnya.

Sutopo menambahkan saat ini perusahaan dalam mencari tenaga kerja disesuaikan dengan kompetensi tidak asal pilih lulusan SMK. Sederhananya kalau anak lulusan SMK jurusan otomotif disuruh bekerja dibidang desain grafis atau malah sebaliknya. Jika hal itu dilakukan justru akan menurunkan mutu perusahaan.

Bisa dikatakan bahwa pendidikan SMK bertujuan untuk memfasilitasi para siswa agar setelah selesai sekolah benar-benar mempunyai keahlian yang bisa diandalkan. “Nah, perkara mereka nanti setelah lulus mau melanjutkan pandidikan ke perguruan tinggi atau mau bekerja dimana, apa malah berwirausaha itu terserah para siswa tersebut. Sekolah hanya memberikan bekal agar setelah lulus tidak menjadi pengangguran,”tegasnya.

Lalu bagaimana pendapat teman-teman kita yang sekolah di SMK. Menurut salah satu siswa SMK Muhammadiyah Gamping, Ahmad Bukhari yang memilih SMK karena dianggap lebih menjanjikan untuk segera memperoleh pekerjaan nantinya ketika lulus. “Saya bangga belajar di SMK karena di sini saya banyak memperoleh kesempatan. Merasakan bagaimana rasanya terjun di dunia kerja sesungguhnya melalui praktek lapangan,”katanya.

Lain lagi dengan teman kita dari Sekolah Menengah Seni Rupa 3 (SMSR) Kasihan, Bantul, Dadang yang memilih sekolah di SMK karena biaya pendidikan jauh lebih terjangkau. Siswa asal Jawa barat ini berpendapat bahwa nantinya setelah lulus juga akan lebih mudah atau terjamin dalam memperoleh pekerjaan.

“Selain itu selama belajar di SMK banyak pengalaman kerja di lapangan yang saya peroleh. Sehingga untuk terjun ke dunia kerja nantinya tidak akan terkejut dan banyak bertanya tentang pekerjaan tersebut. Kemudian kenapa saya memilih jurusan seni rupa karena saya suka seni lukis dan ingin menjadi seniman profesinal,”katanya.

Setelah teman-teman mengetahui tentang seluk beluk SMK mulai dari Dinas Pendidikan, Kepala SMK Muhammadiyah Gunungkidul serta pendapat teman-teman kita yang telah bersekolah di SMK, apa pendapat teman-teman tentang sekolah di SMK? Tertarik untuk sekolah di SMK? Teman-temanlah yang akan menentukan pilihan itu. Yang jelas SMK bisa menjadi pilihan bagi teman-teman untuk melanjutkan sekolah.

Melalui SMK teman-teman akan banyak belajar dan jelas akan diberikan ketrampilan tertentu sesuai bidang keahlian atau jurusan yang diambil. Sehingga ketika lulus akan lebih siap menghadapi dunia kerja. Selain itu teman-teman juga bisa berwirausaha ataupun melanjutkan ke Perguruan Tinggi baik negeri maupun swasta. Banyak pilihan bukan?.

Oleh : Dwi Martantyo, Ahlul Amalsyah, Dian Karyati Pamungkas (Dimuat di UP Magazine edisi spesial SMK)

*apabila ingin membaca UP Magazine bisa menghubungi kami.


About Rumah Media

Lembaga Sosial yang bergerak di bidang media massa

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s